Presscorner.id – Di tengah eskalasi konflik global yang melibatkan kekuatan besar di Timur Tengah dan Eropa Timur, para pengamat intelijen dan militer memperingatkan bahwa Indonesia kini berada dalam radar target dampak perang yang meluas. Namun, target yang dimaksud bukan sekadar serangan fisik konvensional, melainkan serangan dalam bentuk perang hybrid dan krisis ketahanan nasional.
Indonesia Target Utama Perang Hybrid
Pengamat militer dan intelijen, Susaningtyas Kertopati (Nuning), menegaskan bahwa Indonesia saat ini sedang menghadapi perang hybrid. Menurut dosen Universitas Pertahanan (Unhan) ini, musuh tidak lagi hanya menggunakan alutsista besar, tetapi menargetkan stabilitas negara melalui manipulasi informasi.
”Kita tengah menghadapi perang hybrid. Di situ bercampurlah nir-militer, non-militer, dan militer. Masyarakat harus hati-hati karena banyak sekali hoaks, disinformasi, dan post-truth yang direkayasa untuk mengacaukan situasi negara,” ujar Nuning dalam keterangannya yang dikutip dari berbagai media nasional.
Target serangan ini bertujuan untuk memecah belah persatuan masyarakat, sehingga melemahkan pertahanan negara dari dalam tanpa perlu adanya invasi militer secara langsung.
Ancaman Dampak Konflik Iran-Israel
Senada dengan hal tersebut, Pengamat Intelijen dan Keamanan Nasional, Doktor Stepi Anriani, menyoroti perluasan konflik di Timur Tengah (melibatkan Iran, Houthi, dan Israel) yang mulai membuka banyak front baru. Menurutnya, posisi geopolitik Indonesia sangat strategis namun rentan menjadi target dampak ekonomi dan keamanan.
Eskalasi di wilayah tersebut menjadikan Indonesia target tidak langsung dari:
- Krisis Energi dan Pangan: Gangguan jalur logistik global yang melewati titik-titik konflik.
- Ketidakpastian Ekonomi: Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah dan potensi hambatan ekspor-impor.
Urgensi Ketahanan Nasional
Direktur Eksekutif Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi, mengingatkan pemerintah untuk segera memperkuat ketahanan nasional di tengah dinamika global 2026 yang kian tidak menentu.
”Indonesia harus menyiapkan ketahanan nasional yang komprehensif. Bukan hanya soal modernisasi alutsista oleh TNI, tapi juga penguatan pertahanan siber oleh BSSN dan kemandirian ekonomi agar tidak mudah goyah oleh tekanan ekspor-impor akibat perang dunia,” tegas Khairul Fahmi melalui laporan ANTARA News.
Langkah Strategis Pemerintah
Menanggapi situasi ini, Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI menekankan pentingnya kebijakan luar negeri Bebas-Aktif untuk menjaga netralitas. Langkah strategis yang diambil mencakup:
- Modernisasi Alutsista: Pengadaan radar dan sistem pertahanan udara canggih.
- Keamanan Siber: Kolaborasi antara BSSN, TNI, dan Polri untuk mencegah serangan pada infrastruktur kritis.
- Diplomasi Internasional: Memastikan Indonesia tetap menjadi jembatan perdamaian guna menghindari keterlibatan langsung dalam blok konflik mana pun.
Meskipun secara geografis jauh dari pusat api peperangan, Indonesia tetap menjadi target dampak sistemik. Peran aktif masyarakat dalam menyaring informasi dan langkah tegas pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi-keamanan menjadi kunci utama menghadapi ancaman perang yang terus meluas.












