PRESSCORNER.ID – Unilever mengumumkan rencana penggabungan unit bisnis makanannya dengan perusahaan bumbu asal Amerika Serikat, McCormick, dalam kesepakatan senilai sekitar US$65 miliar.
Transaksi ini menjadi yang terbesar kedua dalam sejarah industri makanan dan minuman global, serta langkah strategis terbesar CEO Fernando Fernandez sejak menjabat pada Maret 2025.
Melansir Reuters Selasa (31/3/2026), kesepakatan ini terjadi setelah tahun lalu Unilever memisahkan bisnis es krimnya, termasuk merek Ben & Jerry’s dan Magnum.
Meskipun unit makanan Unilever dikenal memiliki margin tinggi, pertumbuhan penjualannya tertinggal dibanding bisnis produk pribadi dan kecantikan, sehingga membatasi target pertumbuhan grup 4%-6% dalam jangka dekat.
Investor sempat menekan perusahaan untuk melepas bisnis makanan setelah terungkap pada 2022 bahwa aktivis miliarder Nelson Peltz telah mengambil saham di Unilever, yang terkait dengan pergantian CEO sebelumnya.
Fernandez, mantan kepala keuangan Unilever, diangkat untuk menyederhanakan portofolio perusahaan.
Kesepakatan akan menggunakan struktur Reverse Morris Trust (RMT) yang menawarkan keuntungan pajak. Dalam skema ini, Unilever akan memisahkan unit makanannya dan menggabungkannya dengan McCormick, pemilik merek saus Cholula.
Unilever akan memegang 65% saham di perusahaan gabungan, setara US$29,1 miliar, dan menerima US$15,7 miliar tunai.
Nilai unit makanan Unilever diperkirakan US$45 miliar, sementara McCormick sekitar US$21 miliar. Beberapa aset tertentu, termasuk operasi Unilever di India, dikecualikan dari kesepakatan.
Analis dari RBC James Edward Jones mengkritik struktur kesepakatan: “Mengapa Unilever melepas bisnis yang didominasi dua merek utama, Knorr dan Hellmann’s, dengan kontrol minimal dan hanya menyisakan 55% saham di perusahaan makanan gabungan? Ini terlihat kurang menguntungkan bagi pemegang saham.”
Sementara itu, Chris Beckett, analis consumer staples di Quilter Cheviot, menyebut, “Kesepakatan ini akan transformatif bagi McCormick, tetapi bersifat inkremental bagi Unilever. McCormick mendapatkan skala global dan distribusi yang lebih luas, khususnya di sektor bumbu, serta potensi pertumbuhan penjualan dari merek-merek Unilever.”
Sejak didirikan pada 1929 melalui penggabungan Margarine Unie dan Lever Brothers, Unilever telah tumbuh menjadi raksasa global barang konsumen dengan merek Dove, Cif, dan Axe, selain bisnis makanan.
Namun tren konsumen yang beralih ke makanan segar dan obat penurun berat badan berbasis GLP-1 menekan permintaan produk makanan kemasan, sehingga Unilever melepas beberapa aset non-inti, termasuk Graze dan The Vegetarian Butcher.
Harsharan Mann, portfolio manager di Aviva Investors, menilai: “Ada logika di balik pelepasan bisnis makanan yang volume penjualannya stagnan beberapa tahun terakhir. Struktur RMT juga masuk akal mengingat isu pajak yang sering menghambat transaksi serupa.”
Kesepakatan ini juga mendukung program efisiensi global Unilever sejak 2024, yang ditargetkan menghemat sekitar 800 juta euro dalam tiga tahun.
Program ini termasuk pembekuan perekrutan global selama tiga bulan akibat ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.
“Strategi ini memperkuat fokus Unilever pada lini household dan personal care, sambil tetap menjaga pertumbuhan jangka panjang melalui optimalisasi portofolio,” kata Fernandez dalam keterangan resmi perusahaan.












