Reporter: Syamsul Ashar | Editor: Syamsul Azhar
PRESSCORNER.ID – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald J. Trump kembali mengguncang stabilitas geopolitik global melalui pesan terbukanya yang sangat agresif.
Trump melalui cuitannya yang diunggah di akun X White House menegaskan, bahwa Washington kini sedang berada dalam diskusi serius dengan pemimpin baru Iran, yang ia sebut lebih masuk akal, untuk mengakhiri operasi militer AS di Iran.
Namun, nada damai tersebut segera berganti menjadi ancaman penghancuran total jika kesepakatan tidak segera tercapai.
Trump Siapkan Serangan ke Iran! 50 Ribu Tentara Sudah Disiagakan
© 2026 Konten oleh Kontan
Dalam pernyataan terbarunya pada Senin (30/3), Trump memberikan ultimatum bahwa Selat Hormuz harus segera dinyatakan “Open for Business” atau terbuka sepenuhnya untuk aktivitas perdagangan.
Jika syarat ini diabaikan, Trump memastikan militer AS akan segera menyudahi kehadirannya di Iran dengan cara yang ekstrem.
“Kami akan menutup ‘kunjungan’ kami di Iran dengan meledakkan dan sepenuhnya melenyapkan seluruh pembangkit tenaga listrik, sumur minyak, dan Pulau Kharg,” tegas Trump.
Tidak hanya itu, ia juga membidik fasilitas desalinasi air laut sebagai target potensial yang selama ini sengaja tidak “disentuh” oleh kekuatan militer AS.
Iran ke AS: ‘Welcome to Hell!’ Ancaman Perang Makin Nyata
© 2026 Konten oleh Kontan
Target Balas Dendam
Ancaman terhadap Pulau Kharg (Kharg Island) menjadi poin paling krusial bagi pelaku pasar energi. Pasalnya, pulau tersebut merupakan urat nadi ekspor minyak Iran.
Jika aset ini terjerembap oleh serangan udara AS, pasokan minyak mentah dunia dipastikan bakal mengalami disrupsi hebat.
Trump mengklaim langkah penghancuran total ini merupakan bentuk retribusi atau pembalasan atas gugurnya tentara Amerika dan korban lainnya, yang menurut Trump telah dibantai oleh rezim Iran selama 47 tahun masa kepemimpinan yang ia sebut sebagai “Reign of Terror” atau rezim teror.
Meski Trump menyatakan adanya kemajuan besar dalam negosiasi dengan pihak otoritas baru di Iran, ketidakpastian tetap menyelimuti kawasan Teluk.
“Besar kemungkinan kesepakatan akan tercapai, namun jika dalam waktu singkat tidak ada hasil, kami tidak akan ragu,” tandasnya.
Pasar komoditas kini bersiaga penuh mengantisipasi apakah gertakan Trump ini akan benar-benar mengguyur kawasan tersebut dengan operasi militer besar-besaran atau sekadar taktik negosiasi tingkat tinggi.
Pada Minggu (29/3) malam, Trump mengklaim posisi Amerika Serikat berada di atas angin dalam negosiasi dengan Teheran. Ia menyatakan militer AS telah melumpuhkan (decimated) angkatan laut dan angkatan udara Iran.
Tonton: Momentum Presiden Prabowo Jualan Kopi Indonesia di Depan Pengusaha JepangTonton: Momentum Presiden Prabowo Jualan Kopi Indonesia di Depan Pengusaha Jepang
Trump menyebut telah terjadi perubahan rezim secara otomatis karena dua lapis kepemimpinan sebelumnya telah “habis”, dan kini AS berhadapan dengan kelompok ketiga yang dianggap lebih masuk akal.
Sebagai bentuk komitmen negosiasi, Trump mengungkapkan bahwa Iran telah mengirimkan total 30 kapal tanker minyak besar sebagai “upeti” atau tanda penghormatan.
“Dua hari lalu mereka setuju mengirim 8 kapal, lalu tambah 2 menjadi 10 kapal. Hari ini, mereka menambah lagi 20 kapal minyak yang akan mulai bergerak besok pagi melalui Selat Hormuz,” ungkapnya.
Trump tetap membuka peluang kesepakatan (deal), namun menekankan bahwa Iran harus menyerahkan seluruh debu nuklir dan membatalkan ambisi senjata nuklirnya.












