PRESSCORNER.ID – NEW DELHI. Suasana di pinggir jalan di depan stasiun metro Kashmiri Gate, yang merupakan stasiun utama di New Delhi, kini tampak lengang. Sebelumnya, ada banyak penjual kaki lima yang menjajakan dagangan di bawah kanopi. Dagangan utamanya roti khas India, sup hangat, serta the panas.
Tapi kini, ruas jalan di luar Kashmiri Gate hampir kosong dari pedagang. Menurut para pedagang yang masih bertahan, sebagaimana diberitakan oleh Bloomberg, banyak pedagang akhirnya memilih pulang ke kampung halaman karena lonjakan harga energi, sehingga biaya hidup makin tidak terjangkau.
Kenaikan harga tersebut dipicu oleh konflik di Timur Tengah, yang diperparah dengan penutupan Selat Hormuz. Tekanan efek perang ini bagi masyarakat terasa hampir di seluruh Asia. Antrean panjang di SPBU terlihat, harga minyak naik, kasus penimbunan juga meningkat.
Warga India merasakan dampak cukup berat. Maklum, harga elpiji yang digunakan untuk memasak meroket lantaran hanya segelintir kapal pembawa liquid petroleum gas (LPG) tiba di India bulan ini. Dus, pasokan hanya cukup untuk memenuhi permintaan beberapa hari.
Satyapal, salah seorang pedagang yang telah 20 tahun lebih berjualan di Kashmiri Gate menuturkan, krisis di Timur Tengah sangat berdampak bagi kehidupannya. Sambil membalik roti paratha yang ia jajakan, Satyapal mengatakan kekurangan elpiji telah memaksanya untuk beralih ke minyak tanah.
Padahal, harga minyak tanah sangat mahal. Sebelumnya, ia tidak lagi memakai minyak tanah sejak 2013. Untuk itu, Satyapal mengeluarkan duit 3.000 rupee, atau sekitar Rp 538.000. Harga tersebut setara 10 kali lipat biaya kompor minyak tanah biasa.
Di rumah, Satyapal berhasil mendapat tabung gas elpiji untuk delapan anggota keluarganya. Tapi harganya empat kali lipat dari harga yang ditetapkan pemerintah untuk keluarga berpenghasilan rendah, yakni 613 rupee, sekitar Rp 110.000.
Istri Satyapal juga membuat oven kayu bakar darurat untuk bertahan hidup. “Rasanya krisis semakin memburuk,” katanya, sambil mengisi piring untuk pelanggan.
Penjualan harian Satyapal juga telah berkurang setengahnya, karena lalu lintas pejalan kaki menurun. Satu porsi paratha dan chole, semur kacang khas India utara, sekarang seharga 50 rupee, naik dari 40 rupee sebulan yang lalu.
Bukan cuma Satyapal yang merasakan dampak buruk konflik Timur Tengah di India. Banyak buruh perkotaan yang akhirnya merasa tidak mungkin untuk membeli bahan makanan untuk dimasak di rumah.
Dengan harga yang naik cepat, bahkan di warung pinggir jalan, para warga kelas bawah dengan cepat kehabisan alternatif. Alhasil, mereka memilih pulang kampung. Kondisi serupa terjadi saat pandemi Covid.
Raju Bhandari, yang bekerja di sebuah restoran kecil di stasiun bus Kashmiri Gate sejak 1984, menyebut, penjualan di warungnya telah berkurang setengahnya akibat krisis ini. Konsumsi minyak sayur juga turun menjadi kurang dari 15 liter per hari.
Sebelumnya, warung Bhandari beroperasi dengan empat tabung elpiji 19 kilogram per hari. Kini, hal tersebut menjadi sebuah kemewahan. Sejak awal Maret, Bhandari menggunakan arang dan kayu. “Saya belum pernah melihat situasi seperti ini,” kata Bhandari.
Dharam Pal, seorang porter di Kashmiri Gate, juga sangat merasakan dampak kenaikan harga energi. Harga makanan yang ia konsumsi kini rata-rata 20 rupee lebih mahal.
Sementara, ia tidak bisa menaikkan tarif atas jasanya, akibat persaingan yang sangat ketat. Pal akhirnya merelakan tabungannya menyusut. Jumlah uang yang ia kirim ke keluarganya di Muzaffarnagar, negara bagian Uttar Pradesh, juga menyusut. “Pilihan apa yang kami miliki?” keluh Pal.











