PRESSCORNER.ID – JAKARTA. Iran menyatakan kesiapannya merespons kemungkinan serangan darat Amerika Serikat, sambil menuding Washington tengah menyiapkan serangan meskipun negosiasi sedang berlangsung.
Pernyataan ini muncul ketika kekuatan regional menggelar pertemuan di Islamabad untuk mencari solusi menghentikan konflik AS-Israel melawan Iran yang telah menewaskan ribuan orang dan mengganggu pasokan energi global.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menuduh AS menyampaikan sinyal negosiasi sambil diam-diam menyiapkan pengerahan pasukan darat. “Selama Amerika menuntut Iran menyerah, respons kami adalah kami tidak akan pernah menerima penghinaan,” katanya kepada rakyat Iran.
Perluasan Konflik
Perang yang dimulai pada 28 Februari dengan serangan AS dan Israel ke Iran kini meluas ke Timur Tengah.
Kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman melancarkan serangan pertama mereka ke Israel pada Sabtu, meningkatkan risiko terhadap jalur pelayaran global, yang sebelumnya telah terganggu akibat hampir tertutupnya Selat Hormuz, jalur bagi sekitar 20% pasokan minyak dan gas cair dunia.
Kedatangan Marinir AS di Timur Tengah
Washington telah mengerahkan ribuan Marinir ke Timur Tengah, dengan kelompok pertama tiba pada Jumat menggunakan kapal serbu amfibi. Laporan The Washington Post menyebut Pentagon menyiapkan operasi darat di Iran, termasuk kemungkinan serangan oleh pasukan Operasi Khusus dan infanteri konvensional.
Namun, keputusan final apakah Presiden Donald Trump akan menyetujui pengerahan pasukan darat masih belum jelas.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan tujuan AS bisa dicapai tanpa pasukan darat, tetapi pengerahan pasukan memberi Trump fleksibilitas maksimal dalam mengambil keputusan.
Pembicaraan Gencatan Senjata di Pakistan
Pakistan, sebagai mediator potensial, menjadi tuan rumah pertemuan pada Minggu, sehari setelah Perdana Menteri Shehbaz Sharif berbicara dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar juga menggelar pertemuan bilateral dengan rekan-rekan dari Turki dan Mesir sebelum konsultasi empat pihak dimulai.
Di tingkat militer, Kepala Angkatan Darat Pakistan Asim Munir terus berkomunikasi dengan Wakil Presiden AS JD Vance. Sementara itu, Turki dikabarkan mengusulkan rencana pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai langkah de-eskalasi lebih luas.
Serangan Israel dan Dampak Energi
Meski upaya negosiasi terus berjalan, militer Israel tetap melancarkan serangan udara ke berbagai sasaran di Iran, termasuk infrastruktur manufaktur senjata dan puluhan lokasi penyimpanan. Lima orang tewas dalam serangan di pelabuhan Bandar-e-Khamir, yang juga menghancurkan dua kapal.
Israel juga menyerang sasaran di Lebanon dalam kampanye melawan Hezbollah, menewaskan tiga jurnalis dan seorang tentara Lebanon. Selain itu, bangunan stasiun TV Al-Araby milik Qatar di Teheran rusak akibat serangan Israel.
Ancaman Terhadap Jalur Pelayaran
Iran terus menyerang Israel dan beberapa negara Teluk. Sistem pertahanan udara menembak jatuh drone dekat kediaman pemimpin partai Kurdi Irak di Erbil.
Dengan hampir tertutupnya Selat Hormuz, perhatian kini bergeser ke jalur pelayaran di sekitar Semenanjung Arab dan Laut Merah, terutama setelah serangan Houthi di Bab el-Mandeb, jalur penting menuju Terusan Suez.
Trump telah mengancam menghantam pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka, meski tenggat waktu diperpanjang 10 hari. Ancaman Iran terhadap kapal membuat sebagian besar tanker minyak enggan melintas, meski 20 kapal berbendera Pakistan kini diizinkan transit, dengan dua kapal diperbolehkan melintas per hari.
Konflik yang semakin kompleks ini menambah tekanan pada pasokan energi global sekaligus mempengaruhi dinamika politik dalam negeri AS menjelang pemilu paruh waktu November.











